Loading...
ENGINEER COMMUNITY BLOGGER
ARTIKEL ARSITEKTUR DAN STRUKTUR

7.15.2011

Konsep Desain Modern Tropis

. 7.15.2011
0 comments

Rumah sudah menjadi salah satu kebutuhan utama manusia pada saat ini, yang dapat berfungsi sebagai tempat berlindung, beristirahat, beraktivitas, dan kegiatan lainnya. Rumah yang baik adalah rumah yang dapat memberikan rasa nyaman, aman, dan juga bisa merupakan ekspresi jiwa dari sang penghuni.
Rumah sebaiknya didesain secara berkesinambungan antara manusia, arsitektur, dan alam sekitarnya. Untuk itu kita memerlukan sebuah konsep yang tepat dalam merancang rumah. Konsep desain rumah atau hunian yang baik adalah konsep yang selalu memperhatikan kondisi dan situasi dimana rumah tersebut akan dibangun. Konsep desain berpengaruh dalam membuat fasade bangunan, pengaturan tata ruang sampai pembuatan lansekap. Salah satu konsep desain yang cocok untuk iklim di Indonesia adalah konsep desain rumah tropis. Konsep tropis tidak selalu lahir dari konsep dasar kesederhanaan, rumah tropis tidak harus berwujud seperti rumah – rumah tradisional yang tersebar di penjuru Nusantara. Kita bisa memadukan konsep tropis ini dengan konsep desain modern yang sekarang banyak disenangi oleh masyarakat, apabila kita menyatukannya dengan baik, maka dapat membuat hunian kita selaras dengan alam, terlihat modern namun tetap memiliki aspek natural dan sesuai dengan perkembangan jaman
Desain modern tropis mampu menyesuaikan dirinya pada bentuk – bentuk alam yang terdapat di sekitarnya, hal ini akan memberikan sebuah potensi alami yang akan direspon oleh desain. Bentuk rumah yang jujur tanpa ornamen, ekspos batu alam, dinding yang dibiarkan tanpa dicat, struktur bangunan ditonjolkan secara arsitektural, adalah beberapa contoh yang bisa kita ambil dari arsitektur modern yang berkembang di saat ini.
Selain itu konsep desain modern tropis yang baik selalu memperhatikan unsur kenyamanan penghuni rumah. Kenyamanan, privasi, dan pemandangan yang menarik, menjadi dasar utama rancangan desain rumah. Tentu saja kita menginginkan rumah yang mampu memberikan rasa comfortable, safety, dan restful. Kenyamanan ini pada umumnya meliputi unsur sirkulasi penghuni, udara, cahaya, dan visual serta penggunaan bahan material yang baik. Hal ini dapat kita ciptakan dimanapun lokasi rumah berada. Berikut ini kami coba untuk mengulasnya lebih lanjut.

KENYAMANAN SIRKULASI PENGHUNI
Perencanaan dan perancangan akses haruslah memudahkan penghuni untuk beraktivitas di dalam rumah tersebut, dengan cara melakukan analisa aktivitas apa saja yang biasa penghuni rumah lakukan, dan siapa saja yang beraktivitas di dalamnya. Penggolongan sifat ruang semi publik dan privat harus ditentukan terlebih dahulu. Penyesuaian pada tapak juga dapat menentukan orientasi penempatan ruang – ruang. Hal ini nantinya akan menentukan hubungan antar ruang agar tercipta jalur sirkulasi yang tepat

KENYAMANAN SIRKULASI UDARA, CAHAYA DAN VISUAL
Mengenai sirkulasi udara dan cahaya, kita dapat memanfaatkan kondisi iklim di Indonesia yang sangat mendukung untuk penggunaan energi alami, sehingga kita dapat menekan penggunaan energi listrik. Sebagai gambarannya kita tidak perlu menyalakan lampu ataupun AC di siang hari, karena kebutuhan pencahayaan dan penghawaan telah dipenuhi oleh energi alam. Hal ini didukung oleh penempatan pintu dan jendela maupun lubang angin yang ditentukan melalui analisa tapak, supaya rumah tersebut mendapat sumber pencahayaan dan penghawaan alami yang optimal
Pada rumah modern tropis, pada umumnya selain memiliki teras yang lebar, juga terdapat bukaan jendela besar, yang tidak hanya berfungsi sebagai jalan masuknya cahaya dan udara, namun juga dapat memasukan view  pemandangan sekitar atau lansekap yang diolah secara maksimal ke dalam setiap ruangan, sehingga akan tercipta interaksi yang harmonis antara ruang dalam dan ruang luar. Suasana di luar bangunan didesain secara maksimal supaya menunjang interior di dalamnya. Misalnya kita bisa menambahkan kolam air untuk membuat lebih sejuk, pemilihan tanaman tropis seperti pisang – pisangan, kroto, tricolor, kamboja yang banyak di sekitar kita, pemakaian batu alam atau kayu sebagai aksen di dinding dan jalan setapak Maka dari itu desain perencanaan dan perancangan bangunan hendaknya dapat menyesuaikan diri dan memanfaatkan potensi lahan di lokasi.

PENGGUNAAN MATERIAL
Di dalam konsep modern tropis, kita dapat bermain – main dengan material, baik itu material alami atau buatan. Penerapan material ini harus memperhatikan estetika bangunan itu sendiri dan tepat guna.Dengan memilih material alami, seperti batu alam, kayu, bambu, pasir, rotan dan lain – lain yang dipadukan dengan material buatan seperti kaca, alluminium, ataupun yang lainnya, sehingga bangunan akan terasa lebih bersahabat dengan alam tropis namun terkesan kontemporer sesuai dengan jaman sekarang. Pemilihan material pun dapat menunjang konsep hemat energi yang selaras dengan konsep modern tropis tersebut, tentunya dengan aplikasi yang sesuai dengan kaedah – kaedah arsitektural. Contohnya pemakaian dinding batu bata mampu mereduksi hawa panas sebesar 20%, sehingga interior terasa lebih sejuk. Material kayu akan membuat kesan hangat. Warna dari material ini bisa kita gunakan sebagai aksen warna terhadap warna dinding rumah.
Dapat disimpulkan setidak – tidaknya kita akan mendapatkan sebuah hunian yang mempunyai konsep desain rumah tropis bergaya modern, baik itu diterapkan pada bangunan dan lansekap maupun interiornya. Sebuah hunian modern tropis yang mampu memberikan kenyamanan dan keamanan bagi penghuni serta sesuai dengan kondisi alam sekitarnya.

sumber : www.article.rumahtropika.com

Read More »»

Minimalis Tidak Sekedar Bentuk Garis-Garis

.
0 comments

Sudah bukan rahasia lagi tentunya jika hunian dengan arsitektur minimalis menjadi idola. Bahkan kecenderungan semua desain ada tambahan minimalis di belakangnya. Tidak hanya hunian minimalis, taman minimalis, dapur minimalis, ruang tamu minimalis dan lain-lainnya yang menyebabkan istilah minimalis pun mulai menjamur.
Tak mengherankan pula lantaran masyarakat lebih mencari hunian minimalis, dalam dunia marketing pun tidak ketinggalan menggunakan istilah minimalis untuk menjual dagangannya. Sehingga konsumen digiring ke istilah minimalis sesuai dengan persepsi mereka.
Perkembangan  yang seperti itu memicu reduksi defines desain minimalis. Artinya, masyarakat hanya mengenal desain minimalis hanya sebagian saja. Masyarakat lebih memahami desain minimalis pada permainan kotak dan garis tegas pada fasad bangunan.  Juga hanya terbatas mengetahui bahwa rumah minimalis selalu menggunakan warna yang natural.
Bahkan untuk membangun hunian minimalis harus mengucurkan dana yang banyak. Karena rumah minimalis itu sendiri seolah sudah menjadi gaya hidup. Dan mau tak mau gaya hidup pasti bersinggungan dengan prestise. Coba tengok, yang memilih hunian minimalis sebagian besar adalah orang berduit.
Konsep desain minimalis sebenarnya tidak sama sekali baru. Muncul pertama kali pada era modernisme 1950-an, mazhab arsitektur less is more (sedikit adalah lebih, red) itu dipelopori oleh Mies van de Rohe, arsitek Jerman. Pada masa itu, seusai Perang Dunia II, banyak kota luluh-lantak dan butuh waktu cepat untuk membangun kembali gedung-gedung.
Memanfaatkan material yang bisa diproduksi massal dan dengan anggaran yang minim, para arsitek membangun kembali kota dengan menekankan aspek fungsional. Mereka membuang detail-detail yang tidak jelas fungsinya, baik pada pintu, jendela, tiang, maupun elemen lain. Mereka juga memangkas ornamen seperti ukiran dan pahatan. Simpel dan praktis.
Pada 1990-an, konsep minimalis diperkaya oleh khazanah arsitektur Jepang. Dihadapkan pada kenyataan mahalnya lahan, para arsitek Jepang dikenal sangat kreatif dan efisien memanfaatkan ruang sempit tanpa menanggalkan unsur-unsur Zen yang menekankan keseimbangan. Kayu yang memberikan kesan sederhana dan ringan juga menjadi karakter utama arsitektur Negeri Sakura ini.
Imelda Akmal, pemilik studio Imelda Akmal Architectural Writer Studio (IAAW), Jakarta, mengakui, arsitektur minimalis bukanlah hanya permainan garis yang tegas pada fasad bangunan. Tetapi arsitektur minimalis juga menyangkut gaya hidup yang minimalis.
“Dari beberapa sisi pembuatan hunian semuanya harus minimalis. Entah itu materi perabot yang digunakan atau materi bangunan semuanya harus minimalis. Jadi tidak  hanya struktur bangunannya saja. Karena pada dasarnya konsep minimalis adalah bertumpu pada keefisienan, “ ucap Imelda yang telah menerbitkan 80 buku arsitektur kepada Joglosemar pada minggu lalu.
Imelda melanjutkan, bangunan minimalis sejatinya pun tidak cocok dengan mereka yang suka mengoleksi barang. “Minimalis juga harus menyangkut dengan cara hidupnya yang minimal dan praktis. Jika masyarakat Indonesia yang masih suka mengoleksi barang, tak seharusnya menerapkan hunian minimalis. Karena bisa menjadi chaos dan tidak matching, “ ucap arsitek lulusan Universitas Trisakti, Jakarta ini.
Mengenai tata ruang pun atau desain interior dan eksterior pun menurut Imelda, juga harus bertumpu pada efektivitas dan berdasar kebutuhan. “Jadi jika memang tidak butuh ruangan tertentu ya kemudian jangan diada-adakan. Begitu untuk desain interior pada hunian minimalis, pastinya harus simpel, “ jelas Imelda yang lulusan Interior Decoration di Royal Melbourne Institute of Technology, Australia.
Oleh sebab itu, menurut Imelda, membangun rumah di Indonesia jangan meniru secara langsung modifikasi desain bergaya modern dari barat, seperti halnya rumah minimalis. “Kalau untuk kita, sebaiknya jangan kemudian meniru persis dengan gaya barat. Tetapi membangun rumah juga harus disesuaikan dengan hawa dan iklim  tropos. Hunian yang bagus adalah hunian yang bisa menyesuaikan dengan udara tropis, “ jelas Imelda.
Cara-cara yang digunakan untuk membuat hunian yang sesuai dengan daerah tropis. Misal dengan permainan banyak saluran ventilasi untuk mengoptimalkan sirkulasi udara segar yang sehat, dan pencahayaan sinar matahari yang melimpah. “Ada 100 macam cara untuk membuat hunian di daerah tropis. Jangan kemudian untuk mengurangi panas lantas memasang AC. Bukan seperti itu caranya, “ tegasnya. n Cisilia Perwita S

sumber : www.harianjoglosemar.com

Read More »»

6.27.2011

home perspektip (kopel design)

. 6.27.2011
0 comments

rumah dengan gaya semi minimalis cocok dipermukiman padat uk. 7,5x17 m


Read More »»

3.16.2011

Perkembangan Style Minimalis Dalam Arsitektur

. 3.16.2011
0 comments

Design arsitektur minimalis yang tengah marak saat ini sebenarnya bukan bentuk arsitektur baru. Sejak awal tahun 1920-an sampai bersinar kembali pada tahun 1990-an, telah hadir dengan faktor pemicu, interpretasi dan aplikasi ”simplicity” yang khas dari satu arsitek dengan arsitek lainnya.

Sebenarnya, Le Corbusier dan Ludwig Mies van der Rohe adalah dua dari sekian banyak arsitek yang memberi pengaruh warna kesederhanaan (simplicity) yang signifikan dalam dinamika arsitektur desain minimalis sejak dulu hingga kini.

Kritikus seni Juan Carlos Rego dalam buku Minimalism: Design Source (Page One, Singapore, 2004) mengungkapkan, design architecture minimalis merupakan pendekatan estetika yang mencerminkan kesederhanaan. Fenomena ini tumbuh di berbagai bidang, seperti seni lukis, patung, interior, arsitektur, mode, dan musik. Akan tetapi, awal pertumbuhan dan faktor pemicu tumbuhnya arsitektur desain minimalis di berbagai bidang bersifat khas dan tidak dapat digeneralisasi.

Minimalis dalam seni lukis dan patung dikenal dengan sebutan Minimal Art, ABC Art, atau Cool Art. Pancaran kesederhanaan Minimal Art dapat dirasakan dari ungkapan pelukis Frank Stella, ”What you see is what you see.”

Minimal Art berkembang di Amerika pada tahun 1960-an sebagai reaksi terhadap aliran abstrakt-ekspresionisme yang mendominasi dunia seni tahun 1950-an. Abstrakt-ekspresionisme mengekspos nilai emosi individual, sedangkan Minimal Art mengekspos nilai universal melalui bentuk abstrak dan geometris dalam komposisi matematis.Pasang-surut

Minimalis dalam arsitektur menekankan hal-hal yang bersifat esensial dan fungsional. Bentuk-bentuk geometris elementer tanpa ornamen atau dekorasi menjadi karakternya. Mengacu pada pendapat Carlos Rego itu, dapat dikatakan arsitektur minimalis mulai tumbuh pada awal abad ke-20 yang dikenal sebagai abad Modern, abad yang diramaikan berbagai kemajuan sebagai dampak dari Revolusi Industri.

Inovasi berbagai material arsitektur bangunan seperti baja, beton, dan kaca, standardisasi dan efisiensi memberi tantangan baru dalam dunia rancang bangun. Beragam pemikiran dikemukakan para arsitek di daratan Eropa maupun Amerika. Pada saat itu pun mereka tengah berusaha mencari format arsitektur baru yang mencerminkan semangat zaman dengan mencoba meninggalkan pengaruh desain bangunan arsitektur klasik.

Ada kelompok arsitek yang memaknai kemajuan zaman itu dengan tetap mempertahankan spirit dekoratif desain arsitektur klasik, tetapi menggunakan motif nonklasik. Contohnya, arsitektur Art Deco tahun 1920-an.

Ada juga yang mengeksplorasi bentuk geometri murni dan antidekorasi, seperti terlihat pada karya Le Corbusier pada tahun 1920-an. Ada juga yang mengeksplorasi integrasi kemajuan industri, teknologi dalam arsitektur, dan antidekorasi, seperti terlihat pada karya Ludwig Mies van der Rohe. Dua kelompok terakhir yang menyiratkan bentuk elementer, fungsional, dan antidekorasi ini dapat disebut sebagai design arsitektur minimalis.

Seiring dengan perjalanan waktu, pengintegrasian kemajuan industri dan teknologi dalam arsitektur bangunan mendominasi arah perkembangan arsitektur. Kehadirannya yang terasa di berbagai belahan dunia membuatnya dijuluki sebagai International Style.


http://www.archipidi.com/


Read More »»